CSR Pendidikan Astra Bisa Menjadi Model Perusahaan Lain

“Untuk mendorong terciptanya generasi muda yang cerdas dan berkualitas, Grup Astra aktif melakukan kegiatan CSR pendidikan. Bagaimana kiprahnya?



“Bagi Astra, kegiatan bisnis tidak terlepas dari lingkungan dan masyarakat sekitar. Kami meyakini bahwa perusahaan tidak hanya menguntungkan, tetapi juga harus berkelanjutan,” ujar Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk.



Itulah sebabnya, kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan bagian dari langkah nyata Grup Astra untuk berperan aktif memberikan kontribusi meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia melalui karsa, cipta dan karya terpadu untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia.





Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk

Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk. (dok.CNBC)







Prijono berharap, setiap anak perusahaan di Grup Astra bertanggung jawab kepada masyarakat dan lingkungan sekitar, sehingga dapat meminimalkan segala risiko dan efek negatif terhadap keberlanjutan operasional dan bisnis perusahaan.



Kegiatan CSR Grup Astra yang dilakukan sejak tahun 1974 terbilang sukses dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Menurut pengamat CSR, Kadek Dwi Cahaya Putra, Dosen Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Bali dan sedang kuliah S3 Ilmu Komunikasi, Ilmenau University of Technology di Jerman ini, keberhasilan program CSR suatu perusahaan harus dilihat dari dua aspek yaitu pelaksanaan dan komunikasi. Sejauh mana CSR memberikan manfaat tidak hanya bagi kelompok tertentu tertentu yang menerima dampak CSR, tapi juga bagi perusahaan pelaksana CSR. Supaya bisa memberikan dampak positif, perusahaan harus mampu mengkomunikasikan CSR-nya secara tepat dan maksimal.



Menurut Dwi, di Indonesia, CSR atau dikenal dengan tanggung jawab sosial perusahaan perlahan-lahan telah menjadi bagian yang sangat penting dari dunia usaha. CSR tidak hanya dianggap sekadar sumbangan (filantropi) sebagai formalitas semata, atau kiss and run (Radyati, 2014), tapi juga sudah menjadi agenda wajib atau rencana strategis perusahaan. Jenis, model dan cakupan CSR perusahaan di Indonesia juga semakin beragam dan dinamis.



Tak mengherankan bila kini banyak perusahaan yang giat melakukan CSR. Mulai dari perusahaan BUMN, swasta maupun multinasional. Sedangkan bidang kegiatan CSR yang diminati beragam, seperti pendidikan, lingkungan, perubahan iklim dan air, tata kelola perusahaan, transparansi, anti korupsi, HAM dan perdagangan manusia, kesenjangan dan ketimpangan sosial.



Demi membangun bangsa yang lebih berkualitas dan intelektual, sejumlah perusahaan memilih CSR pendidikan. Contohnya Astra International, Telkom, Semen Indonesia, BCA dan sebagainya. PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Telkom). Melalui Telkom University, BUMN ini berharap terus melahirkan generasi masa depan yang berpendidikan dan melek teknologi.



Ketua Telkom Foundation, Dwi Sasongko Purnomo, menjelaskan, Telkom Foundation menaungi dan mengatur operasional di Telkom University dan institusi pendidikan lainnya yang dimiliki Telkom. Telkom University memiliki sekitar 23.000 mahasiswa yang tersebar di 27 program studi pada 7 fakultas dengan sekitar 1.000 dosen dan tenaga penunjang akademik. Jumlah ini ditunjang kesiapan lahan seluas 48 hektar di kawasan Bandung Technoplex serta 81 laboratorium dan empat perpustakaan standar Dirjen Dikti.



Selain melalui lembaga pendidikan, Grup Telkom juga mendorong kualitas pendidikan di Indonesia dengan memberikan beasiswa. Sepanjang tahun 2014, Telkom telah memberikan beasiswa sebesar Rp 20 miliar kepada mahasiswa Telkom University yang berprestasi (beasiswa prestasi) dan mahasiswa kurang mampu (beasiswa sosial). Angkanya naik sekitar Rp6 miliar dari realisasi 2013 Rp 14 miliar.



Sementara itu, kegiatan CSR PT Semen Indonesia Tbk., sejak dua tahun terakhir difokuskan untuk dunia pendidikan. Dana yang dialokasikan 40% dari anggaran Rp 235 miliar. Menurut Faf Adisyamsul, Kepala Departemen Pengelolaan Sosial dan Lingkungan Korporasi PT Semen Indonesia Tbk., alokasi dana CSR untuk pendidikan mulai 2013 dan seterusnya naik 15% menjadi 40% dibandingkan beberapa tahun sebelumnya hanya 25%. Dananya juga untuk membantu pendidikan informal seperti pemberian dana wirausaha bagi 235 pondok pesantren yang ada di Gresik dan Tuban. Jumlah siswa SD hingga SMA yang masuk dalam CSR pabrik semen ini sekitar 2.400 siswa. Sedangkan beasiswa untuk Perguruan Tinggi sekitar 160 mahasiswa.

PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) tidak mau ketinggalam dalam kegiatan CSR pendidikan. Head of CSR BCA, Sapto Rachmadi, mengungkapkan, CSR pendidikannya melalui payung Bakti BCA diimplementasikan dalam pilar Solusi Cerdas, melalui Program Pendidikan Akuntansi (PPA) non degree dan Program Pendidikan IT non degree. Kemudian dalam pilar Solusi Bisnis Unggul, BCA aktif mengembangkan potensi daerah, seperti desa-desa wisata binaan dan objek-objek wisata seperti Goa Pindul dan Air Terjun Sri Gethuk. Untuk pilar Solusi Sinergi, BCA secara aktif memperkenalkan wayang pada generasi muda melalui program Wayang Masuk Mall dan Wayang for Student.



Namun, di antara sekian banyak kegiatan CSR pendidikan, aktivitas yang dilakukan oleh Astra International mampu mencuri perhatian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan. Lihat saja dalam suatu kesempatan peresmian gedung SMKN 2 Gedangsari, Gunungkidul di Yogyakarta (5/3/2015), Anies mengatakan,” “Pada hari ini, kita menyaksikan peristiwa bersejarah dan penting yaitu peresmian gedung SMKN 2 Gedangsari. Ini merupakan terobosan Astra di bidang pendidikan.”

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan dalam peresmian gedung baru SMKN 2 Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta (doc. Astra)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan dalam peresmian gedung baru SMKN 2 Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta (doc. Astra)







Pernyataan Anies itu disampaikan saat pidato peresmian gedung baru SMKN 2 Yogyakarta yang juga dihadiri oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Bupati Gunungkidul Badingah. Penyerahan gedung SMKN 2 dilakukan oleh Direktur Astra International, Djoko Pranoto kepada pemerintah Kabupaten Gunungkidul yang diwakili oleh Bupati Badingah.



Terobosan apa yang dilakukan Astra? Yang dimaksud Anies adalah terobosan pembangunan gedung baru SMKN 2 Gedangsari senilai Rp14,9 miliar tersebut merupakan bantuan Astra International dengan visi jangka panjang, yaitu membuat SMK agar menarik bagi masyarakat desa. Pada akhirnya langkah ini bakal membangun dan mensejahterakan desa tersebut, karena mengintegrasikan sekolah SD, SMP dan SMK dengan menghasilkan siswa yang mandiri. Konsep sekolah ini dinilai bagus dan sepatutnya dicontoh oleh pembangunan sekolah lain atau perusahaan lain. Itu adalah poin pertama.



Bagi Anies, masalah pendidikan bukan cuma tanggung jawab pemerintah saja. Secara moral, pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak, termasuk dunia usaha. Dan Astra sudah memelopori dengan membangun lembaga pendidikan mulai dari SD hingga SMK di desa, sehingga menarik bagi warga desa sekitarnya dan mendidik mereka menjadi lulusan yang mandiri.



Poin kedua, Astra memiliki cara pandang berbeda dalam mengentaskan kemiskinan. Menurutnya, seringkali banyak pihak mengatasi masalah kemiskinan dengan cara sosial. Padahal, ada cara lain melalui jalur ekonomi. Untuk itu, perlu mensejahterahkan masyarakat prasejahtera agar dapat masuk dalam kegiatan ekonomi. Nah, alat yang dibutuhkan adalah pendidikan. Sebab, pendidikan itu tidak hanya mencerdaskan dan membuka wawasan, tetapi sekaligus mensejahterahkan masyarakat.



“Ibaratnya Astra sedang membuat sebuah tangga berjalan yang akan membawa naik orang ke atas. Dan siapa saja yang ikut ke eskalator itu, maka akan terbawa naik secara bersama-sama,” jelas Anies lagi.



Poin ketiga, kepeloporan Astra membangun sekolah tingkat SD – SMK di desa secara otomatis akan mengurangi, bahkan menghambat arus urbanisasi. Dengan demikian warga desa tidak perlu sekolah jauh-jauh ke kota atau mencari pekerjaan di kota tanpa dibekali pendidikan yang memadai. Anies mencontohkan, dengan program Tata Busana dan Membatik di SMKN 2 Gedangsari, maka para siswa akan menjadi sumber daya lokal yang dapat menyesuaikan dengan permintaan produk batik, dan tidak menutup kemungkinan melahirkan industri batik di desa tersebut. “Ibaratnya tidak cukup hanya diberi ikan dan kail, tetapi pastikan juga kolam dan ikannya masih ada. Inilah terobosan yang dilakukan Astra,” sang menteri menambahkan.



Selain tiga nilai plus CSR Astra di mata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, kebijakan CSR Astra juga berbeda dengan perusahaan – perusahaan pada umumnya. Jika sebagian besar perusahaan beranggapan CSR sekadar biaya, maka Astra justru mengaggap CSR adalah investasi masa depan.



Perusaahan yang menganut CSR adalah “cost” sangat sulit untuk mendapatkan sokongan yang layak dari lapisan teratas manajemen. Akibatnya, jika keuangan perusahaan merosot, maka anggaran CSR yang akan dikorbankan lebih dulu dengan pemangkasan dana. Sebaiknya, jika CSR dianggap sebagai investasi, maka kesinambungan dana CSR dijaga, sehingga hasilnya akan menekan risiko bisnis dan meningkatkan kinerja perusahaan dan menciptakan peluang-peluang bisnis baru.



Yang jelas, raksasa otomotif nasional itu berprinsip di mana pun lokasi aktivitas Astra dan anak usaha berada, harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma, yaitu “Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.”



CSR Pendidikan Astra



“Yang membedakan kita dengan mereka yang tinggal di daerah adalah kesempatan. Indonesia akan maju dan berkembang bila penduduknya diberi kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan yang baik.” Demikian pesan mantan CEO Astra International Tbk, almarhum Michael Dharmawan Ruslim, yang masih terngiang-ngiang hingga sekarang di telinga manajemen dan karyawan PT Astra International Tbk.



Pentingnya pendidikan itu membuat Astra International (Astra) menjadikan bidang pendidikan sebagai salah satu dari empat pilar utama kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Masing-masing adalah pendidikan, kesehatan, lingkungan dan Usaha Kecil Menengah (UKM).



Berbagai program CSR yang dilakukan Grup Astra mengacu kepada pendekatan Triple Bottom Line, atau 3P, yakni Profit atau keuntungan, Planet atau lingkungan dan People atau manusia. Setiap anak perusahaan dituntut untuk menyeimbangkan ketiga unsur ini. Intinya di mana perusahaan atau cabang Astra berada, harus memberikan nilai tambah kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Mahasisa penerima beasiswa Astra dari Undip (doc Undip)

Mahasisa penerima beasiswa Astra dari Undip (doc Undip)







CSR Pendidikan Astra dijalankan melalui tiga pintu. Pertama, dilakukan oleh perusahaan induk PT Astra International Tbk melalui Environment and Social Responsibility Division, antara lain program pendidikan bagi masyarakat sekitar Kantor Pusat di Sunter, Tanjung Priok dan daerah-daerah bencana, seperti DI Aceh, DI Yogyakarta, Jawa Barat dan Sumatera Barat. Kedua, melalui anak-anak perusahaan serta kantor cabang Astra di masing-masing lokasi dan daerah. Ketiga, melalui enam yayasan yang sengaja dibentuk untuk bidang pendidikan.



Sejatinya kiprah CSR bidang pendidikan Astra International dimulai sejak tahun 1974 hingga sekarang. Selama lebih dari 40 tahun, Astra telah menjalankan kegiatan CSR bersama 9 yayasannya dengan semboyan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia). Adapun 9 yayasan itu adalah Yayasan Toyota & Astra (YTA), Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), Yayasan Astra Bina Ilmu (YABI), Yayasan Astra Honda Motor (YAHM), Yayasan Amaliah Astra (YAA), Yayasan Karya Bakti United Tractors (YKB UT), Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR), Yayasan Astra Agro Lestari (YAAL) dan Yayasan Insan Mulia Pamapersada Nusantara (PAMA).



Dari 9 yayasan Astra itu, mayoritas atau 6 yayasan bergerak di bidang pendidikan. Hal itu dibenarkan oleh Yulian Warman, Kepala Humas PT Astra International Tbk.Setiap tahun, lanjut Yulian, Astra menyiapkan anggaran Rp 400 miliar untuk kegiatan CSR. Dana tersebut fokus digunakan untuk pendidikan.



Keenam yayasan itu adalah, pertama, Yayasan Toyota & Astra (YTA). Didirikan sejak tahun 1974, YTA memiliki visi dan misi berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui program penyediaan bantuan dana dan pembiayaan untuk kegiatan pendidikan, riset, pengembangan ilmu sains dan teknologi, bantuan alat peraga pendidikan dan buku-buku, khususnya bidang otomotif.



Fokus program YTA adalah menekankan program peningkatan kualitas pendidikan bagi pelajar-pelajar tingkat SD hingga Perguruan Tinggi, serta staf pengajar PTN yang melakukan penelitian sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar master atau doktor. Hingga akhir 2014, YTA telah memberikan 74.628 beasiswa untuk murid SD, SMP, dan SMA.



Kedua, Yayasan Astra Bina Ilmu (YABI) yang dirintis sejak 1995. Misi YABI menyelenggarakan institusi pendidikan melalui Politeknik Manufaktur Astra (Polman Astra) yang profesional dalam bidang teknologi, khususnya otomotif sumber daya alam, untuk menghasilkan lulusan siap pakai dengan kualitas terbaik di Indonesia. Hingga akhir tahun 2014, YABI sudah menghasilkan 2.505 lulusan di berbagai bidang yang siap bekerja.



Ketiga, Yayasan Astra Honda Motor (YAHM). Diawali tahun 1995, YABI sebagai organisasi sosial yang mandiri dengan misi mendukung kehidupan masyarakat di bidang pendidikan dan sosial melalui program pemberian beasiswa bagi siswa pra sejahtera dan pembangunan fasilitas pendukung institusi pendidikan, program edukasi masyarakat tentang keselamatan di jalan raya, pelestarian lingkungan hidup serta kegiatan amal untuk berbagai aktivitas sosial dan budaya, termasuk bencana alam. Hingga kini, YAHM sudah memberikan 1.722 beasiswa dan 100 ribu buku saku aman bersepeda motor.



Keempat, Yayasan Karya Bakti United Tractors (YKB UT). Operasional perdana yayasan ini pada 2008 dengan visi menjadi lembaga pendidikan keterampilan mekanik dan operator alat-alat berat terbaik di dunia. Melalui UT School yang tersebar di wilayah Indonesia, YKB UT secara intensif mempersiapkan operator dan mekanik alat berat yang terampil dan profesional berstandar internasional. Sampai pengujung tahun 2014, yayasan ini telah mencetak 9.239 tenag terampil dan memberikan pelatihan kepada 720 guru terkait.



Kelima, Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR). Yayasan ini dirintis mulai tahun 2009. Visinya membantu sekolah-sekolah yang berada di daerah prasejahtera agar muridnya mampu meningkatkan kualitas, intelektual, kompetensi kecakapan hidup serta memiliki karakter yang didasarkan pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. YPA-MDR membantu sekolah – sekolah dari jenjang SD, SMP, SMK di Tanah Air. Hingga tahun 2014, sudah membina 50 sekolah (hardware, software, brainware), 720 guru dan 11.467 siswa.



Keenam, Yayasan Astra Agro Lestari (YAAL). Yayasan yang didirikan sejak tahun 2010 ini memiliki visi menjadi salah satu sekolah terbaik di wilayah operasional perkebunan sawit. YAAL berkomitmen memberikan pendidikan yang lebih baik bagi keluarga karyawan dan masyarakat sekitar. Sekolah yang dibangun mulai dari TK, SD, SMP berikut manajemen sekolah dan menyediakan tenaga pengajar yang berkualitas. Tak lupa, membangun rumah bagi para guru dan memberikan pelatihan pengajar di area perkebunan. Sampai tahun 2014, YAAL telah memgelola 65 sekolah milik YAAL, 91 sekolah umum, 313 tempat pengasuhan anak, 515 guru, serta 12.236 siswa.



Perkembangan kegiatan CSR Pendidikan Grup Astra bersama 9 yayasannya per Juni 2015 adalah (1) menyalurkan beasiswa kepada 188.529 penerima, (2) pengembangan program yaitu alam bentuk hardware, brainware dan software sebanyak 13.490 sekolah binaan, (3) program pelatihan untuk 28.308 guru, dan (4) pembangunan Rumah Pintar beserta isinya sekitar 20 unit di 9 provinsi di Indonesia.



Jika disimak dari 6 yayasan Grup Astra yang bergerak di bidang pendidikan itu, tampak bahwa pendidikan mulai dari TK hingga PT menjadi pusat perhatian. Bahkan, dari pendidikan dini atau dasar setingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).



“Astra satu-satunya perusahaan swasta yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pembinaan PAUD di Indonesia”, kata Direktur Pembinaan PAUD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Erman Syamsuddin, dalam acara Gebyar PAUD di Taman Mini Indonesia Indah yang dihadiri oleh Ibu Negara Iriana Joko Widod0 (19/3/2015). Astra peduli pendidikan anak pada usia dini karena ini adalah kunci sukses mewujudkan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas pada masa depan.



Untuk pembinaan PAUD, Astra telah membina 72 PAUD di Jabodetabek sejak tahun 2010. Juga, sudah empat kali menggelar diklat PAUD yang telah memberikan pelatihan kepada 865 kader PAUD Binaan Astra serta pembangunan dan renovasi 14 lembaga PAUD. Dari pembinaan itu, setidaknya lebih dari 4.480 orang tua anak dan anggota masyarakat mendapatkan pelatihan parenting oleh Astra.



Asal tahu saja, pola pembinaan PAUD Astra memfokuskan pada pengembangan software (kurikulum PAUD secara tematik, pengembangan inovasi pengajaran, pendampingan manajemen & administrasi PAUD), brainware (peningkatan kompetensi pendidik, peningkatan pengetahuan parenting untuk orang tua dan pembinaan kesadaran masyarakat untuk mengasuh dan melindungi anak) dan hardware (pembangunan gedung PAUD, penyediaan sarana belajar alat peraga edukatif).



Setelah PAUD, sekolah tingkat SD pun menjadi prioritas pengembangan CSR Astra. Simak saja, belum lama ini Grup Astra melalui Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) meresmikan Gedung SDN Karyasari 01 Bogor kepada Pemerintah Kabupaten Bogor. Sebelumnya gedung ini sudah direnovasi pada Oktober 2015.

Peletakan batu pertama SMKN 1 Wilijeung di Bogor

Peletakan batu pertama SMKN 1 Leuwiliang di Bogor (dok.SWA)







Bantuan yang diberikan oleh YPA-MDR tidak hanya dalam bentuk pemberian infrastruktur seperti pembangunan sekolah saja. Sejak tahun 2011 kepala sekolah dan para guru di SMKN 1 Leuwiliang juga mendapatkan pendidikan, pelatihan serta pendampingan untuk meningkatkan kompetensi dalam bidang Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP).



Leuwiliang merupakan daerah pertama yang dibantu oleh YPA-MDR dengan membantu SDN Karyasari 01, SDN Karyasari 02, SDN Karyasari 03, SDN Hegarmanah dan SDN Pabangbon 01 pada tahun 2006. Pada akhir 2007, YPA-MDR memperluas bantuan ke jenjang SMP dengan membantu SMPN 4 Leuwiliang.



Melihat kelulusan siswa SMPN 4 Leuwiliang pada tiga tahun pertama (2009, 2010 dan 2011) di mana masih banyak siswa yang putus sekolah, maka Astra dan Pemerintah Kabupaten Bogor sepakat untuk mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) rintisan yang mengacu kepada potensi dari daerah tersebut.



Ya, untuk level SMK, selain meresmikan gedung SMKN 2 Gedangsari di Yogyakarta, YPA-MDR juga meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan gedung SMKN 1 Leuwiliang di Bogor. Ini bukanlah kali pertama YPA-MDR melaksanakan program CSR nya di Leuwiliang.



Gedung SMKN 1 Leuwiliang ini dibangun di atas tanah seluas 10.000 meter persegi. Nantinya fasilitas yang akan tersedia di SMKN 1 Leuwiliang adalah ruang kantor, ruang kelas, perpustakaan, workshop, teaching factory, ruang laboratorium, kantin, mushola dan aula beserta fasilitas lainnya dengan luas bangunan keseluruhan adalah 3.147 meter persegi. Pembangunan gedung ini ditargetkan selesai pada akhir tahun 2016.



Sejak Maret 2011, dengan memanfaatkan sebagian lahan SMPN 4 Leuwiliang didirikanlah SMKN rintisan kompetensi keahlian TPHP. Lalu, tahun 2015 SMKN 1 Leuwiliang sudah meluluskan 140 siswa dan pada tahun ajaran 2015/2016 memiliki 6 rombongan belajar dengan 233 siswa dan 16 tenaga pengajar. Dengan jumlah siswa yang terus meningkat, maka di tahun 2015 PT Astra International akan membangun gedung SMKN 1 Leuwiliang beserta fasilitas pendukungnya. Dengan adanya SMKN 1 Leuwiliang ini diharapkan para siswa lulusannya memiliki peluang untuk mampu membangun dan mengembangkan daerahnya sendiri sehingga dapat mencegah terjadinya urbanisasi.



Menurut Paulus Bambang Widjanarko, Direktur PT Astra International Tbk., hingga kini Grup Astra melalui YPA-MDR telah membina 39 sekolah, yaitu 29 SD, tujuh SMP dan tiga SMK yang memiliki 11.467 siswa serta 720 pendidik. Sekolah-sekolah tersebut berada di Leuwiliang – Bogor, Jawa Barat; Gedangsari – Gunung Kidul, Pandak – Bantul, Yogyakarta, Tanjungsari dan Merbau Mataram – Lampung Selatan, Lampung, serta Donorojo – Pacitan, Jawa Timur.



Sedangkan bersama dengan PT United Tractors Tbk dan PT Pamapersada Nusantara, YPA-MDR membantu 5 sekolah yaitu 3 SDN dan 2 SMPN didaerah Kutai Barat dan bersama dengan PT Marga Mandala Sakti (MMS) membantu 6 SD yang ada di Kabupaten Serang.



“Melalui YPA-MDR, Astra membantu pengembangan pendidikan di sekolah-sekolah yang terletak di daerah prasejahtera, agar semua anak memiliki kesempatan yang sama sehingga bisa tumbuh menjadi anak bangsa yang cerdas, mandiri, serta peduli pada pembangunan di daerah asalnya,” jelas Paulus.



Sementara itu, kegiatan CSR Astra di level PT dengan memberikan bantuan beasiswa. Melalui YTA, Grup Astra memberikan 17.571 beasiswa untuk mahasiswa tingkat D3 dan S1, serta 498 beasiswa untuk mahasiswa S2 dan S3.



Keseriusan Grup Astra mengembangkan kegiatan CSR ini ada musababnya. Kata Yulian Warman, secara filosofi, Astra memiliki visi untuk menjadi yang bermanfaat bagi manusia dan negara. Menurutnya, perusahaan lain belum ada yang berani menajdi aset bangsa dan negara. “Syaratnya menjadi tauladan, tidak boleh merusak lingkungan dan harus memberi contoh untuk lingkungan,” ucap bos Humas Astra International itu.



Buah Manis Kiprah CSR Pendidikan



Kepedulian Astra dan anak usaha dalam membantu dunia pendidikan melalui kegiatan CSR selain berguna bagi penerima bantuan, juga untuk kebaikan masyarakat sekitarnya. Ujung-ujungnya mampu meningkatkan kecerdasan bangsa Indonesia dan kualitas hidup masyarakat.



“Terima kasih kepada Astra yang selama beberapa tahun ini telah bekerja sama membangun dan mengembangkan pendidikan di Kecamatan Leuwiliang, Bogor. Sungguh besar harapannya bahwa SMKN 1 Leuwiliang dapat mengharumkan Leuwiliang secara khusus dan Kabupaten Bogor pada umumnya,” ungkap Nurhayanti, Bupati Kabupaten Bogor.



Pernyataan senada dilontarkan Wakil Kepala SMPN 4 Leuwiliang Bidang Akademik, Dra.Suparti. Menurutnya, kehadiran SMPN 4 Leuwiliang yang dibantu CSR Astra sangat menolong warga lantaran kondisi ekonomi masyarakat sekitar masih kekurangan. Ia pun memberikan acungan jempol untuk kesungguhan Astra yang kontinyu memberikan bimbingan, bantuan sarana dan prasarana, serta pelatihan bagi guru-guru di SMPN 4 Leuwiliang demi mencetak siswa siswi jempolan.



Atas keberhasilan kegiatan CSR Grup Astra ini, Kementerian Pendidikan dam Kebudayaan RI memberikan apresiasi. Contohnya, tahun 2010 Astra meriah penghargaan “Anugerah Peduli Pendidikan”. Selama ini Grup Astra menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama aktivitas CSR selain pemberdayaan ekonomi melalui program Peningkatan Pendapatan.



Kinerja, prestasi, dan intensifnya kegiatan CSR Grup Astra, secara tidak langsung membuat nama Grup Astra makin harum dan bersinar. Tidak mengherankan bila perusahaan ini menjadi 4 besar perusahaan idaman para pencari kerja (job seeker) di Indonesia. Berdasarkan hasil survei “Employer Branding 2015” yang dilakukan oleh Hay Management Group, Astra International masuk urutan 4 besar, setelah Pertamina, Tekom, dan BCA.



Aloysius Budi Santoso, Chief of Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk., menjelaskan, alasan talent ingin bergabung dengan Astra karena tertarik soal gaji dan benefit menggiurkan, jenjang karier jelas, lingkungan kerja baik, dan citra positif. Citra positif ini salah satunya terbentuk dari kegiatan-kegiatan CSR yang ciamik. Pada gilirannya, Astra pun bisa menjadi aset bangsa Indonesia dan teladan perusahaan-perusahaan di Tanah Air. (***)



Sumber: http://swa.co.id/corporate/csr/csr-pendidikan-astra-bisa-menjadi-model-perusahaan-lain

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.