Inovasi Nugroho Bisnis Cuci Mobil Tanpa Air

image



“Mencuci mobil tanpa air? Memang bisa?” Itulah sebagian besar respon yang didapat Elihu Nugroho, ketika meluncurkan Valo, cuci mobil tanpa air atau dikenal dengan waterless car care. Tak jarang pendiri bisnis ini sering dikatakan tidak waras oleh calon konsumennya.



Berkat produk ajaib yang diciptakan sendiri, Nugroho berhasil menemukan produk yang tidak hanya membersihkan kotoran, tapi juga dapat mengkilapkan mobil. Proses menemukan ramuan yang pas tidak berlangsung sebentar. Butuh waktu 2 tahun bagi Nugroho untuk menemukan racikan yang tepat.







“Saya mencari bahan-bahannya di pameran bahan-bahan kimia. Saya mendatangi booth satu persatu untuk menanyakan fungsinya apa. Dari situ saya dapat sampel. Setelah itu saya coba campurkan bahan A dengan bahan D, jika gagal ya dibuang. Trial and error-nya berlangsung selama 2 tahun.



Produk pencuci mobil ini tergolong bio chemical sehingga tidak merusak tangan dan mobil. Ada 7 bahan yang dipaki ramuan. “Kebetulan saya sudah biasa membuat sampo mobil dan wax ban sendiri,” cerita pria kelahiran Malang, 9 Februari 1976 ini.



Meskipun gemar membuat sampo mobil dan wax ban sendiri, Nugroho tidak memiliki latar belakang di bidang kimia. Ia justru merupakan lulusan diploma dari Insititut Manajemen Komputer Akuntansi (IMKA) Solo, jurusan Manajemen Komputer Akuntansi.



Ia belajar secara otodidak mengenai bahan-bahan kimia dan juga proses pembuatannya.



Sebelum mendirikan PT Valo Indonesia Prima, Nugroho memiliki usaha salon mobil yang sudah berjalan selama 5 tahun dan masih berjalan hingga sekarang. Namun, usaha salon mobilnya ini tidak diberi merek dan tidak memiliki gerai, dan memakai sistem home service.



“Potensi cuci mobil itu besar. Semua orang pasti mencuci kendaraannya, tapi tidak semua kendaraan di salon. Saya melihat air bersih di Jakarta sudah sedikit. Di rumah saya saja setiap beberapa bulan sekali airnya mati. Padahal air menjadi yang terpenting bagi bisnis cuci mobil. Lalu, saya melihat peluang cuci mobil tanpa air ini belum ada di Indonesia akhirnya saya memutuskan untuk membuat unit bisnis baru yang dapat menggantikan bisnis cuci mobil konvensional,” ujarnya seraya menambahkan bahwa produknya sudah dipatenkan di Kementrian Perdagangan RI.



Di November 2014, PT Valo Indonesia Prima resmi berdiri. Meskipun tidak memakai air, Nugroho mengatakan hasil mobil yang dicuci jauh lebih bersih dan lebih mengkilap. Bahan-bahan yang diperlukan hanya, produk dan lap microfiber.



Produk ramuan yang dibutuhkan pun sangat sedikit sekali, cukup 70-100 ml untuk 1 mobil. “Air tetap pakai, tapi hanya untuk cuci lap. Cuci mobil konvensional membutuhkan air 200 liter, tapi di Valo bisa hemat air 99%.



“Meskipun air yang digunakan sedikit, tapi hasilnya lebih bersih dan lebih kinclong, karena di dalam produk ini ada kandungan wax-nya sehingga mobil tidak akan jamuran juga,” kata Nugroho seraya mengatakan menambahkan mobil setelah offroad tidak bisa dibersihkan dengan produknya karena lumpurnya terlalu tebal.



Berkat cuci mobilnya yang unik dan menawarkan konsep go-green, Valo menjadi langganan untuk mencuci kendaraan di kegiatan kenegaraan. Awalnya, salah satu konsumennya menggunakan jasa Valo. Tak disangka konsumennya ini adalah yang mengurusi kendaraan untuk acara pelantikan Presiden di istana negara.



“Pegawai protokoler Presiden memanggil kami karena jasa Valo unik dan tidak repot. Sebab, setelah selesai bisa langsung dikendarai, tidak usah dikeringkan lagi. Di acara Konferensi Asia Afrika 2014 kami juga mendapat panggilan untuk mencuci mobil para tamu asing,” ungkapnya bangga.



Selain mobil, Valo juga dapat mencuci sepeda motor bahkan pernah mencuci jetski dan pesawat!. “Ya kami pernah mencuci pesawat Cesna di landasan udara Palembang ketika ulang tahun landasan udara Palembang,” ujarnya sambil tertawa.



Karena tidak menggunakan air, gerai Valo bisa berada di pusat perbelanjaan, apartemen, dan gedung perkantoran. Pelanggan cukup mendatangi booth Valo dan menuliskan di mana kendaraan itu di parkir, selanjutnya Valoman (sebutan bagi yang mencuci mobil) akan mendatangi mobil pelanggan dan langsung mencuci di tempat.



“Gerai kami unik, tinggal kasih tahu saja parkirnya di mana nanti Valoman  akan datangi mobilnya dan langsung bisa dicuci di tempat itu juga. Jadi selesai berbelanja, mobilnya sudah kinclong. Atau jika tidak sempat datang, langsung telepon saja nanti akan ada Valoman yang akan datang tanpa dikenai biaya tambahan asalkan jaraknya tidak lebih dari 2 km dari gerai yang terdekat,” dia menjelaskan.



Selain cuci mobil, Valo juga menawarkan cuci bagian dalam mobil, cuci mesin, perawatan jamur kaca, dan lain-lain.



Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 50 – 350 ribu. Sampai saat ini, Valo sudah memiliki 34 gerai di 18 kota di Indonesia. Gerai-gerai ini 80% dikembangkan secara kemitraan.



Investasi yang harus dikeluarkan sang mitra jika tertarik ingin membuka gerai Valo sekitar Rp 50 juta. Harga ini sudah termasuk perlengkapan cuci dan juga training pegawai.



Dengan modal awal Rp 8 juta untuk membeli perlengkapan, Nugroho bisa mendapat omset Rp 16-25 juta per outlet setiap bulannya.



Nugroho mengakui bahwa edukasi pasarcuci mobil tanpa air itu lebih bersih masih menjadi tantangan yang terbesar selain sumber daya manusia. Untuk meningkatkan kualitas Valoman, Nugroho memiliki Valo Academy yang berfungsi sebagai pusat pelatihan bagi calon Valoman. Yang diajarkan bukan hanya bagaimana cara mencuci mobil, tapi juga bagaimana berinteraksi dengan konsumen. Secara keseluruhan, Nugroho mempekerjakan 150 Valoman dan 9 orang di manajemen.



Produk yang dibuatnya sengaja tidak dijual dipasaran karena ia ingin lebih banyak merangkul tenaga saja. “Misi saya ingin menjadi greenpreneur dan socialprenur. Greeprenur karena usaha saya bisa menyelamatkan bumi karena menghemat sangat banyak air dan socialpreneur. Saya ingin memberdayakan orang-orang sekeliling agar bisa mendapat pekerjaan. Jika produknya dijual ke pasaran, nanti malah jadi banyak pengangguran,” ujarnya sambil bersemangat.



Nugroho menargetkan konsumen yang dibidik berusia 23-45 tahun, memiliki mobil, tidak punya sopir, dan sibuk bekerja. Dari total keseluruhan konsumen, 35%nya merupakan konsumen loyal.



Untuk mengembangkan bisnisnya, di tahun 2016 Nugroho agak mengerem pembukaan gerai baru dan lebih memperbanyak Valoman agar bisa menjangkau area yang lebih luas lagi. Selain itu, di Februari 2016 ini akan meluncurkan aplikasi untuk Andrtoid untuk pemesanan secara online. Pembuatan aplikasi ini membutuhkan investasi sebesar Rp 100 juta.



Dan diakui Nugroho, keberhasilan yang dicapai tidak luput dari peran PT Bank Central Asia Tbk. BCA telah membantu pembinaan usahanya serta permodalan yang dibutuhkan. (EVA)



Sumber: http://swa.co.id/entrepreneur/inovasi-nugroho-bisnis-cuci-mobil-tanpa-air

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.