Bank Dunia: Ekonomi RI On The Track

Bank Dunia dalam laporannya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,3 persen di 2017. Prediksi itu dipertahankan dibandingkan proyeksi yang diumumkan Bank Dunia pada Juni 2016. Secara total, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,1 persen menjadi 2,7 persen dan negara-negara berkembang juga dipangkas 0,1 persen menjadi 4,2 persen tahun ini.

Bank Dunia mengungkapkan, Indonesia sebagai negara pengekspor komoditas terbesar di kawasan Asia Timur dan Pasifik mampu secara cepat mengantisipasi penurunan harga komoditas.

“Selain itu, Indonesia mampu mengakomodasi kebijakan moneter yang membantu menopang permintaan domestik, sehingga ekonomi masih tetap tumbuh moderat sebesar 5,1 persen di 2016,” demikian laporan Bank Dunia yang berjudul “Global Economic Prospect”.


Presiden RI Joko Widodo bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengunjungi salah satu booth dalam ajang Indonesia Fintech Festival and Conference, di ICE BSD, (30/8).

Pertumbuhan negara-negara pengekspor komoditas, kata Bank Dunia, diestimasikan sebesar 4,9 persen pada 2016. Secara jangka menengah, negara-negara ini diprediksi tumbuh rata-rata 5,3 persen hingga 2018 karena dinilai berhasil mengantisipasi penurunan harga komoditas. Ekonomi Indonesia yang tahun lalu diestimasi tumbuh 5,1 persen, akan mampu tumbuh rata-rata 5,4 persen antara 2017-2019.

“Indonesia utamanya ditopang oleh melonjaknya investasi swasta, sedangkan Malaysia diproyeksikan pulih dan tumbuh rata-rata 4,5 persen pada 2017-2019,” ujar laporan Bank Dunia.

Untuk kawasan Asia-Pasifik dan Timur, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan 6,2 persen tahun ini. Proyeksi itu mempertimbangkan perlambatan pertumbuhan China sehingga mempengaruhi pertumbuhan di kawasan. Ekonomi China diprediksi hanya akan tumbuh 6,5 persen di 2017. Kebijakan makroekonomi China diperkirakan akan mampu menopang permintaan domestik meskipun permintaan ekspor melambat, melemahnya investasi swasta, serta beberapa sektor industri yang sudah over kapasitas.

Sementara itu, pertumbuhan negara-negara pengimpor komoditas tidak termasuk China diproyeksikan tetap stabil, dengan pengecualian Thailand. Sebab pertumbuhan Thailand diprediksi mengencang ditopang oleh membaiknya kepercayaan dan kebijakan yang akomodatif.

Tahun ini ekonomi Thailand diprediksi tumbuh mengencang jadi 3,2 persen dibandingkan estimasi 2016 sebesar 3,1 persen. Tidak berbeda ekonomi Filipina juga bakal mengencang tumbuh 6,9 persen di 2017 dibandingkan estimasi 2016 sebesar 6,8 persen. Ekonomi Vietnam justru diprediksi sangat melambat menjadi hanya tumbuh 6 persen pada 2016 dibandingkan 2015 yang tumbuh 6,7 persen. Pada tahun ini ekonomi Vietnam diprediksi kembali menguat 6,3 persen.